Pelaku Pasar Selalu Memilih Saham Bagus

Belum lama ini sedang marak pemberitaan terkait kebijakan B20, semua solar bahan bakar mesin diesel wajib dicampur dengan biodiesel. Porsi biodiesel dalam solar bahan bakar ditetapkan 20%. Sebagian dari berita yang rilis pada tanggal 7 - 8 Agustus 2018 seperti ini:

Tersirat dari berita, emiten sawit (seperti: SSMS, AALI, BWPT, LSIP) sangat diuntungkan dengan kebijakan itu. Para investor mainstream akan merespon berita-berita tersebut dengan membeli saham emiten sawit. Mari kita amati apa yang terjadi pada masing-masing emiten pada saat kemunculan berita itu.


Saat rilis berita bagus, garis kuning ada sedikit kenaikan, tapi secara keseluruhan garis kuning masih menunjukkan pola Distribusi.


Saat rilis berita bagus, garis kuning mulai berbalik naik setelah sebelumnya berangsur-angsur menurun.


Saat rilis berita bagus, garis kuning mulai berbalik meroket naik.


Saat rilis berita bagus, garis kuning memang melonjak naik, tapi garis kuning sudah menanjak naik sejak Desember 2017 dan terus konsisten berada dalam pola Akumulasi hingga berita bagus dirilis.

Ini menarik. Diantara sekian emiten sawit, ternyata tidak semuanya memiliki pola garis kuning yang sama. Saya penasaran, kenapa pola akumulasi hanya terjadi pada SSMS. Kenapa para pelaku pasar sudah mengumpulkan saham SSMS sejak Desember 2017. Bahkan, ketika harga sahamnya jatuh pada pertengahan Mei 2018 (bersamaan dengan dihembuskannya berita buruk tentang sektor perkebunan sawit), pelaku pasar tetap mengakumulasi saham ini. Saya kemudian kroscek data statistik kinerja emiten yang diterbitkan IDX (saat itu data yang terpublikasi masih per Juni 2018 dengan posisi laporan keuangan per Maret 2018).


Ringkasan kinerja emiten perkebunan dari IDX. Cermati pada kolom NPM dan ROE.

Ternyata, para pelaku pasar sangat-sangat canggih, sejak akhir tahun 2017 mereka sudah mampu menerawang kinerja SSMS yang sangat cemerlang, bahkan mereka mampu menerawang bahwa sekian bulan kedepan akan berhembus wacana kebijakan B20. Mereka pun hanya memilih untuk masuk/akumulasi pada emiten sawit yang terbaik, tidak pada semua emiten. Nampak dari tabel, NPM (nett profit margin) dan ROE (return on equity) tertinggi ada pada SSMS. Ini menjelaskan kenapa pola akumulasi garis kuning sejak akhir tahun 2017 hanya terjadi pada SSMS, artinya: kaum investor anti-mainstream masuk di saham ini. Emiten lainnya memang mengalami lonjakan garis kuning pada saat rilis berita bagus, sehingga ini mengindikasikan mayoritas investor mainstream masuk pada emiten tersebut.

Belajar dari case ini, lebih kurang kita dapat memiliki keyakinan lebih tinggi pada saham-saham yang sudah terbentuk pola akumulasi. Semoga bermanfaat.