Investasi Berkala, Pilih Saham Apa?

Sebagai investor, kita sering menjumpai pesan edukasi yang menyarankan agar investasi dilakukan secara berkala, ini dikenal dengan berbagai istilah, seperti: installment, auto-debet, DCA (Dollar Cost Averaging), dan sebagainya. Sejak tahun 2015, IDX juga memiliki program kampanye serupa yaitu Yuk Nabung Saham. Dengan metode ini, kita akan melakukan investasi (pembelian saham, reksa dana, dsb) secara berkala tanpa mempedulikan kondisi market yang sedang terjadi, apakah sedang naik (bullish) atau turun (bearish). Walaupun metode ini memberikan imbal hasil yang lebih rendah, namun metode ini populer karena kesederhanaannya (tidak perlu repot menganalisa, tidak perlu berusaha menebak arah pasar) sekaligus melindungi investasi kita dari volatilitas pasar. Metode ini menghindarkan kita dari kerugian yang lebih besar saat market turun setelah kita melakukan investasi.

Pertanyaannya, saham seperti apa yang cocok untuk kita lakukan investasi berkala?

Bagi investor retail dapat memulai dengan memilih saham yang masuk dalam indeks seperti LQ-45, kita tidak perlu repot-repot menganalisa karena seluruh saham yang masuk dalam indeks ini sudah masuk dalam "kriteria investasi" hasil review setiap 6 bulan. Bagi yang ingin bergabung dalam program Yuk Nabung Saham, di website-nya juga sudah disediakan beberapa pilihan saham (sayangnya sejak 2017 belum ada update hingga sekarang). Mari kita coba cermati beberapa saham ini sesuai metode gebetSaham, seperti apa saham yang baik, dan seperti apa saham yang sebaiknya dihindari.

Berinvestasilah pada Saham yang Diminati Pelaku Pasar

Emiten yang berkinerja baik belum tentu diminati pelaku pasar, demikian juga harga saham yang jatuh belum tentu dijauhi pelaku pasar. Pelaku pasar didominasi oleh para investor anti-mainstream, dimana mereka ini memiliki kemampuan analisa yang jauh kedepan. Ciri utama saham yang tidak diminati pelaku pasar adalah memiliki pola distribusi, yaitu garis kuning yang terus turun dan turun.

Sebagian contohnya dapat dilihat dari saham ISAT, ICBP dan INDF. Sejak awal tahun 2018, harga saham ISAT terus turun, juga nampak garis kuning masih menukik turun. Harga saham ICBP relatif stagnan sejak Juli 2017, sementara mayoritas pelaku pasar sudah melepas saham ini sejak Agustus 2018. Harga saham INDF sebagai induk usaha ICBP nampak cenderung mengalami penurunan, demikian juga mayoritas pelaku pasar masih terus melepas saham ini.


Sejak awal tahun 2018, harga saham ISAT terus turun, juga nampak garis kuning masih menukik turun.


Harga saham ICBP relatif stagnan sejak Juli 2017, sementara mayoritas pelaku pasar sudah melepas saham ini sejak Agustus 2018.


Harga saham INDF nampak cenderung mengalami penurunan, demikian juga mayoritas pelaku pasar masih terus melepas saham ini.

Bisa jadi para emiten ini secara kinerja fundamental baik-baik saja, namun saat ini belum masanya diminati oleh para pelaku pasar. Saham dengan pola distribusi cenderung akan disertai dengan penurunan harga, oleh karena itu sebaiknya kita hindari dulu sembari menantikan pola saham ini berbalik menjadi akumulasi.

Mari kita cermati saham-saham yang sedang diakumulasi oleh pelaku pasar, sedikit yang akan kita tinjau adalah BBCA, SSMS, ASII, WOOD. Saham-saham dengan karakteristik seperti ini merupakan kandidat untuk dilakukan investasi secara berkala.


BBCA diakumulasi oleh pelaku pasar sejak Mei 2018 dan masih terus mengalami akumulasi hingga sekarang.

BBCA diakumulasi oleh pelaku pasar sejak Mei 2018. Sejak itu hingga Juli 2018 sebenarnya harga saham BBCA mengalami penurunan cukup dalam hingga 10%, namun perhatikan bahwa pada periode itu garis kuning tetap pada pola akumulasi, dan masih terus mengalami akumulasi hingga sekarang. Sebagai saham dengan kapitalisasi pasar terbesar, investor asing juga sudah mulai mengakumulasi saham ini sejak Juli 2018 hingga sekarang. Faktanya, BBCA adalah satu-satunya diantara saham perbankan yang masih terus diakumulasi pasar, walaupun pada periode itu masih pada era suku bunga rendah yang berdampak negatif pada kinerja perbankan.


Saham SSMS sudah diakumulasi oleh pelaku pasar sejak Desember 2017 dan masih terus diakumulasi hingga saat ini.

SSMS juga mirip seperti BBCA, bahkan saham SSMS sudah diakumulasi oleh pelaku pasar sejak Desember 2017 dan masih terus diakumulasi hingga saat ini. Cermati bahwa saham ini mengalami penurunan cukup dalam hingga 27% pada bulan Mei 2018, namun pada periode itu malah akumulasi saham ini meningkat tajam. Sejak itu hingga sekarang saham ini masih terus diakumulasi, juga secara perlahan diiringi peningkatan harga saham. Volume produksi sawit Indonesia saat ini sudah merupakan yang terbesar di dunia mengalahkan Malaysia, namun masih mendapatkan penolakan dari negara destinasi ekspor. Menariknya, saham SSMS ini merupakan satu-satunya diantara saham emiten sawit yang masih terus diakumulasi pasar. Kajian atas perbandingan antar emiten sawit ini tersaji dalam artikel Pasar Selalu Memilih Saham Bagus.


Saham ASII menjadi contoh saham dengan pola grafik harga (garis biru) dan volume (garis kuning) yang segendangsepenarian (seirama)

ASII menjadi contoh saham dengan pola grafik harga (garis biru) dan volume (garis kuning) yang segendangsepenarian (seirama). Cermati bahwa harga saham selalu mengikuti naik turunnya garis kuning. Karakteristik seperti ini sangat memudahkan investor, dimana keputusan investasi dapat sejalan dengan pola garis kuning. ASII juga merupakan 10 besar saham dengan kapitalisasi pasar terbesar, nampak bahwa investor asing sudah mulai kembali mengakumulasi saham ini sejak awal November 2018.


Harga saham WOOD dalam sebulan terakhir cenderung turun tapi masih terus terjadi akumulasi hingga sekarang.

Bahasan kita terakhir adalah saham WOOD, emiten yang saya pribadi merasa tidak familiar. Saya menemukan emiten ini saat mengulik jeroan reksadana saham (RDS) dg kinerja tertinggi saat ini (YTD), baik versi IPOTFUND maupun PortalReksadana. RDS ini adalah Simas Syariah Unggulan, return YTD nya fantastis hingga 39%. Saya penasaran dengan jeroan RDS ini, pastinya sang manager investasi sangatlah piawai dalam menganalisa dan menerawang kinerja emiten. Dalam fund fact sheet (periode September 2018) terungkap isinya BRIS, HOKI, WOOD, MCAS, TLKM. Walaupun nama-nama saham ini banyak yang kita tidak familiar, tapi mayoritas saham ini berada dalam pola akumulasi. WOOD salah satu yg paling menarik, walaupun price sebulan terakhir cenderung turun tapi masih terus terjadi akumulasi.

Semoga lebih kurang dapat memberikan gambaran seperti apa saham-saham yang cocok menjadi kandidat investasi berkala. Mencari saham mana yang sedang mengalami trend akumulasi kini tidak lagi sulit, langsung seketika bisa ditemukan dengan menggunakan fasilitas Peta Saham. Investasi berkala yang dilakukan dalam jangka panjang sangatlah penting untuk memperhatikan analisa fundamental atas suatu emiten. Untuk itu, selalu konfirmasikan pola grafik garis kuning dengan kinerja fundamentalnya, salah satunya dengan mengikuti cara yang telah diuraikan dalam artikel Pasar Selalu Memilih Saham Bagus.

Selamat berinvestasi.